Di Balik Janji Kandidat: Hak Warga, Reformasi Hukum, dan Pilihan Kita

Di Balik Janji Kandidat: Hak Warga, Reformasi Hukum, dan Pilihan Kita

Saya sedang duduk di teras warung kopi pagi itu, angin sedikit gerah tapi ada keriuhan kampanye yang lewat — bunyi pengeras suara, poster yang setengah terkelupas, dan tawa pemilik warung yang bilang, “Mereka janji muluk, ya?” Saya ikut tertawa, tapi di dalam hati ada pertanyaan yang lebih berat: sejauh mana janji-janji politik itu menyentuh hak-hak warga dan kebutuhan reformasi hukum yang nyata?

Mendengar janji, tapi siapa yang mendengar warga?

Walau sering terdengar retorika tentang pemberdayaan masyarakat, kenyataannya ruang partisipasi publik masih sempit. Saat calon-calon berkampanye, mereka melontarkan frasa-frasa manis — “akses keadilan”, “perlindungan hak asasi”, “reformasi birokrasi” — namun ketika saya tanya tetangga, banyak yang cuma mengangkat bahu. Ada rasa jenuh, lelah mendengar janji yang tak terealisasi. Kadang saya merasa seperti penonton di teater: set lampu terang, dialog menggugah, tapi ketika tirai jatuh, panggung kosong.

Ada dua hal yang perlu diingat: hak warga bukan sekadar slogan di pidato, dan reformasi hukum bukan hanya mengubah kata-kata dalam undang-undang. Itu soal akses, biaya, pengetahuan, dan yang paling penting — kemauan politik untuk menegakkan hukum secara adil.

Reformasi hukum: apa yang harus berubah duluan?

Kalau ngomong soal reformasi hukum, saya suka membayangkan peta yang penuh jalan-jalan berdebu: ada satu jalan utama yang rusak parah (korupsi), ada gang-gang sempit tanpa penerangan (akses keadilan bagi kaum miskin), dan ada jembatan yang runtuh (perlindungan hak-hak minoritas). Perbaikan harus bertahap, tapi terkoordinasi. Membuat aturan baru saja tidak cukup — harus ada pengawasan independen, mekanisme transparan, dan pendidikan hukum warga agar orang paham haknya.

Saya pernah ikut diskusi kecil di komunitas hukum, dan seru melihat ide-ide sederhana yang sering terlupakan: misalnya layanan hukum pro-bono yang terhubung dengan puskesmas, atau mobile clinic hukum yang datang ke desa. Inovasi semacam itu tak glamor di kampanye besar, tapi dampaknya langsung terasa oleh warga.

Profil kandidat: jangan cuma lihat gaya, lihat rekam jejak

Waktu memilih, saya jadi lebih suka membuka lembar belakang kandidat daripada sekadar melihat senyum di baliho. Rekam jejak, keputusan kebijakan yang pernah diambil, jaringan aliansi — semua itu memberi petunjuk tentang prioritas mereka. Kandidat yang pintar berorasi belum tentu pro-hak warga jika jejaknya menunjukkan kompromi berulang dengan kepentingan korporasi atau politik praktis yang mengabaikan aspek keadilan.

Lucu juga, beberapa calon yang paling vokal soal “keamanan” ternyata kebijakan operasionalnya kurang berpihak pada perlindungan hak sipil. Ada kecenderungan menggeser perhatian dari akar masalah — kemiskinan, pendidikan, pengangguran — ke solusi represif. Kita harus waspada pada framing semacam ini.

Kalau kamu butuh referensi tentang bagaimana seorang kandidat mengklaim memperjuangkan keadilan, saya sempat membaca beberapa program kampanye yang detail; ada juga yang jelas-jelas memasukkan reformasi lembaga yudikatif. Untuk yang penasaran, beberapa sumber kampanye bahkan memuat roadmap reformasi yang bisa dikulik lebih jauh, misalnya ryanforattorneygeneral — bukan endorse, cuma contoh bagaimana peta kebijakan bisa ditulis lebih konkrit.

Kita sebagai warga: apa peran kita sebenarnya?

Saat debat publik atau rapat terbuka, saya sering lihat dua tipe warga: yang pasif dan yang aktif. Yang pasif berharap perubahan datang dari langit; yang aktif memilih cara-cara kecil tapi konsisten — ikut musyawarah kelurahan, menandatangani petisi, menanyakan rencana anggaran. Saya mengakui, kadang saya juga malas. Ada hari ketika saya hanya ingin rebahan sambil scroll feed. Tapi kemudian saya ingat, hak saya untuk didengar juga butuh usaha kecil: hadir di TPS, baca program kerja, dan mengingatkan teman kalau klaim kandidat terlalu indah untuk dipercaya begitu saja.

Dalam obrolan santai itu di warung kopi, seorang bapak bilang, “Yang penting kita punya suara.” Saya setuju — suara itu perlu dimanfaatkan dengan informasi. Reformasi hukum dan hak warga akan lebih mungkin terjadi jika pemilih menuntut bukti dan akuntabilitas, bukan sekadar janji manis di panggung kampanye.

Jadi, ketika poster-poster kembali memenuhi tiang listrik dan pengeras suara berputar lagi, mari kita kritis tapi juga realistis. Pilihan kita bukan cuma memilih tokoh populer, tapi memilih arah kebijakan yang menghormati hak setiap warga dan membangun sistem hukum yang adil. Dan kalau kamu lagi bete, ingat: ada kopi di warung, teras, dan percakapan yang bisa jadi awal perubahan. Ajak tetangga, obrolkan visi, lalu gunakan suara itu dengan bijak.